Dinamika Sastra merupakan blog nya sastrawan Sergai.
asam kandis asam gelugur
terkimne is gerejen
Kabupaten Serdang Bedagai telah berusia 9 tahun.Akan tetapi belum terlihat gerak kiprah sastra di tanah bertuah negeri beradat ini. Padahal sebagai negeri yang beradat tentu sangat kental dengan kesenian. Pantun bahkan ini merupakan adat orang melayu dalam menyampaikan hajatnya. Orang melayu selalu membungkus nya dengan
pantun saat ingin menyampaikan maksudnya. Apakah itu bercinta, melamar bahkan sampai kepada berpetuah pun menggunakan pantun. Hal ini dapat dilihat dalam pantung berikut ini :
pantun saat ingin menyampaikan maksudnya. Apakah itu bercinta, melamar bahkan sampai kepada berpetuah pun menggunakan pantun. Hal ini dapat dilihat dalam pantung berikut ini :
asam kandis asam gelugur
ketiga asam si riang-riang
menangis mayat dipintu kubur
teringat bandan tidak senbahyang
atau bahkan orang Belanda yang sempat menjajah sumatera ikut latah-latahan membuat pantun
terkimne is gerejen
herkimne is secon wegen
artinya:
kita orang jalan-jalan
kita orang cari perawan
Selain itu berapa banyak pengarang yang berasal dari Serdang bedagai seperti Nasjah Yamin, Muhammad Yusli Yar, Rani Pribadi, Safwan Hadi Umri, Nuraini, Adi Mujabir, S.A.Munay, Ucok Prence, Sudar AS, Lely Zailani, Nyoto yang sekarng bermukim dan menjadi budayawan Riau juga berasal dari Serdang Bedagai.
Masih banyak potensi sastra yang ada di Serdang Bedagai, namun kin bagai batang jati yang terendam. Ada tapi masih terkubur.
Kini kami lahirkan blog sastra "Dinamika Sastra" ini. Semog bermanfaat buat kita semua. Bahwa sastra Sergai masih ada. (s.a.munay)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar