Menggemari dunia tulis-menulis sejak SMP tatkala guru bahasa Indonesia nya Supardiono mulai mengajakan dongeng, cerpen, novel dan puisi. Pernah belajar sastra dan teater bersama Barani Nasution, Rusli A. Malem, dan Dahri Uhum Nasution di Tunas Sastra Taman Budaya Medan.Naskah drama spontannya berjudul Pada Sebuah Kampung terpilih sebagai naskah drama spontan terbaik pada loka karya penulisan, penjurian dan penyutradaan di Stabat Kabupaten Langkat. Pernah mendirikan teater matahari Perbaungan.
Tulisannya berupa cerpen, puisi mulai dimuat di media tahun 1982 antara lain Minggu Sinar Pembangunan sekarang Medan Pos, Waspada, Koran Masuk Desa dan Koran Masuk Sekolah Dunia Wanita , Majalah Dunia Wanita, dan Mingguan Dobrak. Puisi nya juga dimuat dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 terbitan Angkasa Bandung yang membuat namanya bersanding dengan sastrawan Indonesia lainnya. Sastrawan Serdang Bedagai yang satu ini tergolong pelit dalam berkarya. Tetapi kini namanya dicatat dalam buku "Leksikon Sastra Indonesia" karya Korrie Layun Rampan penerbit Balai Pustaka Jakarta, dan Ensiklopedi Sastra Indonesia penerbit Titian Ilmu 2009
Kini lebih sering tulisannya muncul di Kompasiana. Selai
itu juga sebagai pemimpin redaksi Dinamika blog sastra Serdang Bedagai.“Sudah
saatnya kita berekspresi di media yang praktis, dan ekonomis” katanya. Selain
sebagai manager BMT QIRADH juga bekerja sebagai wartawan Rakyat Patroli juga pengurus Dewan Kesenian Serdang Bedagai
komisi sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar